PLARAPOST.COM– Sebagai penggerak perekonomian masyarakat, Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, terus mengoptimalkan sektor pertanian.
Sejumlah komoditas unggulan yang saat ini dikembangkan meliputi kopi, padi, sayuran, dan pisang, yang dinilai memiliki potensi besar karena ketersediaannya yang melimpah di wilayah tersebut.
Kaur Perencanaan Desa Perbawati, Asep Amir Hamzah mengatakan, bahwa pengembangan komoditas pertanian tersebut didasarkan pada potensi alam dan sejarah desa. Selain sektor pertanian, Desa Perbawati juga memiliki potensi pariwisata karena berada di jalur wisata Pondok Halimun.
”Potensi pertanian di Desa Perbawati relatif melimpah. Termasuk juga potensi pariwisata. Namun, untuk saat ini kami masih memfokuskan pengembangan pada kopi, padi, pisang, dan sayuran,” ujar Asep, Rabu (4/2/2026).
Asep menjelaskan, dari sejumlah komoditas yang dikembangkan, kopi dan padi telah lebih dulu berjalan dan melibatkan pelaku UMKM serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Untuk komoditas kopi, pemerintah desa bekerja sama dengan UMKM Baru Halimun dan menghasilkan produk kopi bermerek Purbawati.
”Kopi kami dikerjasamakan dengan UMKM Baru Halimun hingga tercipta produk Kopi Purbawati. Sedangkan untuk padi, pengelolaannya melibatkan BUMDes,” jelasnya.
Kopi Perbawati yang merupakan jenis arabika saat ini telah dipasarkan ke sejumlah kedai kopi di wilayah Sukabumi. Pengelolaannya difokuskan pada proses pascapanen, mulai dari pembelian kopi dari petani hingga pengolahan menjadi biji kopi siap pakai.
”Kami fokus pada pengolahan kopi. Hasil panen petani kami beli lalu diolah menjadi biji kopi untuk kebutuhan kedai-kedai di Sukabumi. Untuk sementara, pemasaran masih difokuskan di pasar lokal karena permintaannya cukup tinggi,” ungkapnya.
Pemilihan kopi arabika, lanjutnya, didasarkan pada kondisi geografis Desa Perbawati yang berada di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut (MDPL), sehingga sangat cocok untuk budidaya kopi jenis tersebut.
“Sebagian besar petani di Desa Perbawati memang menanam kopi arabika, sehingga bahan baku yang kami olah mayoritas berasal dari petani lokal,” tambahnya.
Sementara, potensi padi di Desa Perbawati juga dinilai sangat besar. Melalui BUMDes, pemerintah desa tengah mengembangkan program pengemasan padi menjadi produk beras unggulan dengan merek Beras Desa Perbawati, baik beras biasa maupun beras ketan.
“Melalui BUMDes, kami sedang menggarap program ini secara bertahap. Target akhirnya adalah menghasilkan produk pertanian yang sehat dan bebas dari pestisida,” terangnya
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah desa secara berkelanjutan memberikan penyuluhan kepada para petani, khususnya terkait upaya pengurangan penggunaan pestisida.
”Penyuluhan terus kami lakukan sebagai bagian dari visi dan misi desa, agar branding beras sehat Perbawati dapat segera terwujud,” imbuhnya.
Selain kopi dan padi, Desa Perbawati juga berupaya menghidupkan kembali komoditas pisang yang pernah terkenal pada masanya, khususnya pisang Selabintana yang dikenal memiliki rasa manis dan kualitas unggul.
“Kami akan mengembangkan seluruh potensi agar produk-produk unggulan Desa Perbawati semakin dikenal dan diminati masyarakat luas,” pungkasnya.***






